22 November 2008

Visit Indonesia 2008

Meskipun gagal dua tahun berturut-turut dalam meraih turis, Indonesia nekat mengumumkan target ambisiusnya di tahun 2008 yaitu menarik 7 juta wisatawan mancanegara dari Asean, khususnya dari Singapura dan Malaysia. Pemerintah berharap meraup US$ 6.4 milyar dari Visit Indonesia Year 2008 yang kampanyenya akan dimulai oleh SBY pada tanggal 1 Januari nanti.

Sekedar informasi, 10 bulan pertama tahun ini Indonesia hanya mampu meraih 4 juta wisatawan, jauh di bawah target semula yaitu 6 juta wisatawan asing.

Slogan yang Ngawur

Slogan yang dipakai sudah sempat ditorehkan di badan pesawat Garuda pun mengundang cercaan karena “ngawur” secara tata bahasa maupun tidak komprehensif. Menyadari kesalahan tersebut Thamrin, Dirjen Kementerian Pariwisata akan menulis ulang slogan yang dipakai menjadi Celebrating Indonesia’s 100 Years of National Awakening.

Kritik lain yang dilayangkan terhadap slogan yang dipilih adalah apakah yang secara khusus dirayakan dari kejadian 100 tahun lalu itu? Tahun 1908 yang dijadikan patokan tentunya suatu kegiatan dari para pemuda yang dirintis Boedi Oetomo yang kita kenal dengan Kebangkitan Nasional. Namun semua itu tidak banyak diketahui orang di luar sana, di mana justru tema itu yang dipilih untuk mengundang mereka.

Sebagian besar cerita di atas saya baca dari harian yang terbit di Singapura. Ketika kembali ke Jakarta dengan hati berdebar saya menantikan perubahan besar paling tidak di Jakarta sebagai gerbang utama Indonesia untuk melihat langsung kesiapan Indonesia menghadapi Visit Indonesia Year 2008 yang tinggal beberapa hari lagi.

Apa yang Disajikan

Ternyata harapan saya tinggal harapan. Kecuali belalai gajah tempat keluar saya dari perut pesawat yang dikuasai oleh promosi salah satu bank nasional terbesar di Indonesia, saya tidak menemukan adanya perbedaan sekecil apapun. Dimulai dari suasana gelap di sepanjang koridor menuju ke Imigrasi. Saya melewati loket pelayanan Visa on Arrival yang segera menimbulkan antrian karena hanya ada 2 loket yang buka sementara tersedia 3 loket. Petugas yang melayanipun mahal senyum sehingga terkesan angker.

Ketika tiba di jejeran loket imigrasi, lebih parah lagi di mana tidak semua loket dibuka. Orang asing mau pun lokal membaur jadi satu menghadapi layanan yang tidak ramah dan lambat dari petugas imigrasi.

Tiba di tempat menunggu bagasi terlihat kerumuman manusia dari berbagai penerbangan mengelilingi hanya 2 dari 3 ban berjalan yang harusnya berfungsi semua. Petugas berteriak-teriak untuk mengingatkan penumpang yang baru mendarat dari berbagai penerbangan ke ban berjalan nomor berapa mereka harusnya menunggu karena minimnya informasi yang selayaknya tersedia. Mendengar teriakan mereka saya teringat terminal bis Kalideres di mana kondektur berteriak-teriak untuk mengingatkan penumpang ke jalur mana mereka harus pergi. Pelayanan di area bagasi sangat lamban namun tidak nyaman sehingga lengkaplah kekesalan di bandara.

Begitu keluar dari gedung, calo-calo taksi gelap langsung menyergap siapapun yang keluar dari pintu terminal kedatangan. Belum lagi preman-preman liar yang memaksa menawarkan jasa memasukkan koper ke mobil penumpang yang dijemput mobil pribadi meskipun tidak diminta dan setelahnya memaksa minta uang jasa. Bandara Internasional Sukarno Hatta benar-benar menjadi serupa dengan terminal bis daerah yang menjadi hal yang memalukan bagi bangsa ini. Meskipun demikian tidak ada tindakan nyata untuk memperbaikinya.

Keluar dari bandara saya melintasi jalan tol yang sampai hari ini harus bayar, padahal bertahun-tahun sudah dioperasikan. Celakanya lagi meskipun harus bayar melintasi jalan tol ini tidak lebih nyaman dibandingkan jalan serupa yang tidak perlu bayar dari pusat kota Singapura ke bandara Changi yang lega (3 jalur), bersih, dan hijau. Di jalan tol Cengkareng Jakarta, jalurnya hanya 2, gelap gulita karena lampu jalan yang sudah dipotong dari pajak kendaraan ketika mengurus pajak kendaraan setiap tahunnya lebih banyak yang mati. Di kiri kanan hanya ada pemandangan yang membosankan dan pompa-pompa air bercokol mengantisipasi genangan air laut.

Masuk lebih dalam ke kota, tidak ada pemandangan khusus yang membuat saya yakin bahwa Visit Indonesia Year 2008 akan terwujud dengan sukses. Kita mungkin sebaiknya berdoa bahwa hanya keajaiban yang mampu memenangkan target Indonesia untuk meraup 7 juta turis dengan apa yang mereka sodorkan sekarang ini. Dikiranya hanya bertopang dagu dan acara seremonial akan mendatangkan turis. Bekerjalah dengan keras saudara-saudaraku yang ada di berbagai sektor. Keajaiban datang pada mereka yang bertindak bukan pada yang hanya berwacana.

Tidak ada komentar: